 |
Bukan Saya, tapi Mereka yang
Gila
"Bukan Saya, tapi
Mereka yang Gila" is about an adolescent girl, named Nian, with her conflicts: family, lovers
and existential anxiety -her early encounter with existential
philosophy- that lead her into struggles, self identity searching,
survival in such oppression and overcoming her problems and
conflicts. Told using first person point of view, "Bukan Saya, Tapi Mereka yang Gila" is a story
about a transitional life through details with emotions.
|
 |
Soulmate
"Soulmate"
told a
story of a young Burmese man as an expatriate in Indonesia named Latt; with his lonely, neglected yet
thoughtful life- and his encounter with a whore named Marla. Marla's
unbearable obsession about her fear toward death brings the story
into struggles to live without fear, seeking for a solution with some surrealist scenes
and yet logically realistic.
Commentaries:
"Sebuah novel
dengan nafas dan suspens cerpen. Sealur sungai yang tenang dengan
jeram yang dialokasikan pada titik yang tepat." (Dewi Lestari,
penulis, pencipta lagu, penyanyi)
"Buku ini
menjanjikan eksplorasi yang lebih dalam tentang ketakutan dan
kesendirian. Ada sepercik harapan yang selalu muncul di balik
gelapnya keterasingan:cinta." (Intan Paramaditha. Penulis,
dosen sastra inggris Universitas Indonesia)
"Bercerita sangat
hidup tentang kematian. Karya dewasa dari pencerita yang sangat
muda." (Indra Herlambang, presenter)
"Membaca cerita
ini membuat kita terangsang, ingin menjadi bagian darinya."
(Alex Komang, Aktor)
"Menarik untuk
dibaca, terutama bagi mereka yang ingin memahami psikologi
individu secara mendalam." (Roslina Verauli, psikolog, dosen
psikologi Universitas Tarumanegara)
|
 |
Cerita Dante
"Cerita Dante" told a
story about some people with their own life and problems; poverty,
boredom, weariness, sickness, oppression, madness, seeking for a
meaning, desperation - that accidentally connected to each other.
Absurdity theme is sometimes strongly revealed through the
characters and their journeys. The story is told by Dante, a boy who
is left by
his mother and lives with his traumatic grandfather after the
tsunami.
Commentaries:
"Dari karya ke karya, Stefani Hid membuktikan diri
sebagai seorang penulis muda yang punya suara yang
orisinil serta eksplorasi tema yang berani berbeda.
Stefani Hid adalah penulis serius yang patut kita
ikuti perkembangannya." (Richard Oh)
"Novel ini diawali
dengan obsesi kematian, karena pada hakikatnya, hidup hanyalah
sia-sia. berawal dari obsesi ini maka tulang punggung novel ini,
yaitu karakterisasi, plot, dan gaya bahasa menggelinding ke arah
tema sentral, bahwa apa pun yang terjadi, kematian, tanpa dapat
dihindari, sebetulnya menakutkan." (Budi Darma)
|
 |
Oz
Fourth book by the
author is short stories collection (Nine titles). Some stories
expose an intense stream of consciousness. Psychotic and neurotic
mind, the awareness of pain, though realistic, becomes theme of
some stories. The details of description are one of the stories
characteristic.
Commentaries:
Brilian! Stefani
Hid telah sampai jauh di depan, menjelajah ranah kreativitas yang
bahkan belum mampu sekedar diduga para penulis sepantarannya.
Tema-tema dan para tokohnya tidak biasa. Stef menghayati kegilaan
dan fasih mengisahkannya dengan intensitas yang juga gila. (Sitok
Srengenge, Penyair)
Meskipun karakter
dan tema cerita-cerita Stefani tak lazim, teks-teks itu hadir
dalam struktur yang tak cerai berai. Karena itu terror, horror,
dan segala yang mengganggu kehidupan steril, mengalur dan mengalir
deras dalam kumpulan cerita yang antihero dan antilogika ini.
Stefani justru memilih struktur teks yang aman untuk memunculkan
tragic-komik kehidupan yang kompleks. (Triyanto Triwikromo,
Sastrawan dan Redaktur Sastra)
Dalam menulis
cerpen, Stefani Hid seperti sedang menggerakan kuas untuk melukis
rasa sakit, dengan pelbagai impressi. Sejumlah cerpennya berusaha
membongkar sisi gelap kemanusiaan kita: perilaku dan emosi yang
acap kita ingkari sendiri, demi harkat yang mungkin semu.
Menghanyutkan sekaligus ‘menjerumuskan’, namun menyenangkan
sebagai sebuah pengalaman membaca. (Kurnia Effendi, Penulis
Cerpen)
[Dalam ‘Penghuni
Kepalaku’], untuk menghilangkan perasaan tersebut tokoh ‘aku’
malah mulai makan macam-macam obat, minum alkohol dan merokok.
Tapi makin mencoba menahan perasaan berdosa, makin hati tokoh
‘aku’ berontak, makin kuat pikirannya kacau berteriak, makin kuat
nafsunya untuk menghancurkan diri sendiri dan orang lain. (Dr.
Monika Arnez, Penulis, Peneliti dan Pengajar Sastra Indonesia dan
Asia Tenggara)
|
|
Short Stories
|
Oz (Koran
Tempo, Sunday, August, 30, 2003)
Penghuni Kepalaku
(Suara Merdeka, 2003)
Mars (Jurnal
Prosa 4, Metafor, 2004)
Litost (Media
Indonesia, Sunday, May, 30, 2004)
Jamais Vu
(Koran Tempo, Sunday, July, 4, 2004)
Solitude (Matra,
September, 2004)
Awan (Spice!,
September, 21-october, 4, 2004)
Majenun (Matra,
September 2006, no.230)
|
|
Play |
Dying of the Shadow
(Written in English)
"Dying of the
Shadow" is about a group of sad people; who bear their own
various problems: from hatred, madness, existential anxiety,
perseverance of innocence, keeping purity, carrying on in this
absurd world, life with ignorance, finding a partner for life with
sex and pedophilia sickness. They are followed by Shadow because
they are blocking the light and Shadow usually comes, lingering in
the wall when negative energies occupy people. At the end, some
are getting happy- such a pure happiness comes in a sudden -quite
impossible but that is indeed happens for some reasons; the bright
good love, the power of serotonin. Shadow that from the beginning
follows them and always becomes a cynic, later he is dying when
they are happy, because Shadow is born from the seed of pain.
|
|
Some News |
The
Jakarta Post
Young writers test the limits of teenlit
Living the Writer’s Life
Majalah Tempo
Sekeranjang Sastra tanpa Sayembara
Sinar
Harapan
”Mereka yang Gila” dalam Novel Stefani Hid
Surya Online
Ajak Pembaca Lebih Sadar dalam Hidup
Sriwijaya Post
Link
|
|